Disleksia pada anak – Mungkin sebagian dari Bunda ada yang pernah mendengar keluhan teman mengenai anaknya yang terlambat baca, hitung, dan tulis, padahal anak sudah masuk usia SD. Setiap orangtua pastinya khawatir dengan kondisi anak seperti itu. Apalagi, jika anak-anak seumurnya sudah bisa membaca, menulis, dan menghitung.
Orangtua biasanya akan malu karena takut mendapat penilaian bahwa tidak mampu mengajari anaknya dengan baik. Kondisi psikis anak yang terkadang lambat, membuatnya menjadi bahan pembullyan teman-temannya.
Melihat kondisi ini, lebih baik kita mempelajari lebih dulu apa saja penyebab keterlambatannya tersebut. Lalu, berikan terapi yang sesuai dengan keadaan anak sehingga masalah ini tidak menjadi semakin buruk.
Terlambatnya anak dalam proses membaca, menulis, dan menghitung memiliki istilah disleksia. Lalu apa maksud dan gejala anak mengalami disleksia? Mari simak ulasan Gurunda berikut ini!
Definisi Disleksia
Disleksia merupakan suatu keadaan yang menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam belajar karena kesulitan melakukan kegiatan baca dan tulis. Umumnya, keterbatasan ini hanya untuk orang yang mengalami kesulitan baca dan tulis.
Tetapi, kondisi ini sebenarnya juga berhubungan dengan perkembangan kemampuan lainnya, seperti kecerdasan, kemampuan analisa, dan sensorik indera perasa. Disleksia merujuk pada hilangnya kemampuan membaca seseorang karena adanya kerusakan pada otak mereka. Disleksia tipe ini bernama aleksia.
Selain memengaruhi kemampuan seseorang dalam baca dan tulis, disleksia pada anak juga bisa memengaruhi kemampuan bicara pada beberapa pengidapnya.
Beberapa peneliti menemukan bahwa gangguan ini terjadi karena adanya keadaan dari biokimia otak yang tidak stabil dan dalam beberapa kesempatan juga bisa terjadi karena riwayat keturunan orang tua.
Tanda-Tanda Untuk Mengenali Disleksia
Menurut dr Purboyo Solek, Sp A, seorang Konsultan Neuropediatri dari Asosiasi Disleksia Indonesia, menyatakan bahwa disleksia dapat diketahui saat anak berusia 7 tahun. Buah hati akan mengalami kesulitan dalam membaca dan mengeja.
Tentunya, gangguan ini berbeda dengan gangguan dalam belajar pada umumnya. Hal ini karena kesulitan mengeja pada orang dengan disleksia bukan karena kurangnya kecerdasan. Disfungsi ini adalah kelainan genetik yang bisa terjadi pada individu dengan IQ yang normal atau di atas rata-rata.
Seringkali, disleksia terlambat terdeteksi oleh orangtua, sehingga gangguan ini banyak memberi efek buruk pada proses belajar anak di sekolah. Penyandang disleksia biasanya memiliki nilai pelajaran yang kurang bagus dan tidak jarang mereka akan merasa tekanan secara psikis.
Hal tersebut karena mereka kurang percaya diri atau menjadi korban perundungan teman-teman di sekolahnya. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk membantu para orangtua dan guru untuk mendeteksi secara dini disleksia. Berikut tanda-tanda disleksia yang perlu kita perhatikan.
- Ketika anak berusia 3 tahun, mereka kesulitan membedakan sisi kanan dan kiri
- Perhatikan cara anak berbicara atau bercerita tentang pengalaman mereka. Misalnya, apabila orangtua bertanya bagaimana kegiatan tadi di sekolah dan mereka menjawab tidak sungguh-sungguh. Maka orangtua harus waspada.
- Tidak menangis ketika terjedot sampai benjol. Hal ini karena ada syaraf yang tidak terpasang dengan normal sehingga mereka sulit merespon rasa sakit.
- Terlambat berbicara
- Sulit berkonsentrasi dan mengenali huruf
- Sulit mengerjakan hal yang berkaitan dengan menulis secara terstruktur
- Huruf suka tertukar, seperti ‘b’ berganti dengan ‘d’
- Daya ingat untuk jangka pendeknya sangat buruk
- Sulit memahami kalimat yang mereka dengar atau baca
Itulah beberapa tanda disleksia pada anak yang patut kita curigai ketika anak sudah mengalaminya. Bunda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendiagnosis keadaan anak agar mereka segera mendapatkan penanganan yang tepat. Semoga bermanfaat!